Tuesday, 24 September 2019

Karakteristik Design Research

Siklus, Fase dan Karakteristik
Desain penelitian pada dunia pendidikan bertujuan untuk mengembangkan solusi berbasis penelitian untuk masalah kompleks dalam praktik pendidikan atau untuk mengembangkan atau memvalidasi teori tentang proses belajar dan mengajar. Design research memiliki beberapa karakteristik yang sama dengan model penelitian lain, design research memiliki karakteristik sebagai berikut (Cobb et al. 2003; Kelly 2003; Design-Based Research Collective 2003; Reeves et al. 2005; van den Akker 1999, dalam van den Akker et al., 2006 : 5). §

Interventionist
penelitian bertujuan untuk merancang suatu intervensi dalam dunia nyata
Iterative
penelitian menggabungkan pendekatan siklikal (daur) yang meliputi rancangan, evaluasi dan revisi
Process oriented
model kotak hitam pada pengukuran input-output diabaikan, tetapi difokuskan pada pemehaman dan pengembangan model intervensi
Utility oriented
keunggulan dari rancangan diukur untuk bisa digunakan secara praktis oleh pengguna
Theory oriented
rancangan dibangun didasarkan pada preposisi teoritis kemudian dilakukan pengujian lapangan untuk memberikan konstribusi pada teori.

Curricular Development Research as a Specimen of educational design Research
Penelitian pengembangan kurikulum menggabungkan tiga tujuan terkait, yaitu:
a. Optimalisasi intervensi / produk (kurikuler) (mis. Kerangka kerja kurikulum, materi edukatif).
b. Prinsip-prinsip desain (kurikulum) (sebagai kontribusi terhadap basis pengetahuan).
c. Pengembangan profesional (dari semua peserta).

Peran penelitian akan diuraikan untuk berbagai tahap pengembangan kurikulum, dengan perhatian khusus pada:
a) kriteria kualitas untuk intervensi kurikulum
b) metode dan prosedur penelitian yang memadai
c) Masalah pertumbuhan pengetahuan dan generalisasi.

Design research from the learning design perspective
Berdasarkan karekateristik, fungsi dan motif penggunaan design research, maka design research dianggap sebagai model penelitian yang sangat relevan untuk mengembangkan kualitas pendidikan, khususnya pembelajaran karena mampu menjembatani perkembangan teori dengan praktik serta menghasilkan rancangan pembelajaran yang aplikatif dan praktis. Di sisi lain, design research dapat menghasilkan suatu teori (grounded theory) yang berbasiskan praktik eksperimen suatu rancangan. Pendekatan luas penelitian yang digunakan memang lebih mengarah kepada penelitian kualitatif naturalistik yang melibatkan suatu proses perancangan, pengembangan, eksperimen dan evaluasi.

Fase dalam penelitian design
Adapun fase-fase dalam penelitian desain yaitu:
a. Mempersiapkan untuk eksperimen,
Tujuan utama tahap ini adalah merumuskan teori pembelajaran lokal (local instructional theory) yang dielaborasi dan diperbaiki selama pelaksanaan eksperimen. Hal-hal yang dilakukan dalam tahap ini adalah :
(1) Menganalisis tujuan yang ingin dicapai misalnya tujuan pembelajaran;
(2) Menentukan dan menetapkan kondisi awal penelitian;
(3) Mendiskusikan konjektur dari local instructional theory yang akan dikembangkan;
(4) Menentukan karakteristik kelas dan peran guru; serta
(5) Menetapkan tujuan teoritis yang akan dicapai melalui penelitian.

b. Bereksperimen di kelas, dan
Tahap merupakan tahap pelaksanaan desain eksperimen yang dilakukan setelah semua persiapan dilakukan. Tahap ini bukan untuk menguji apakah rancangan dan local instructional theory bekerja atau tidak, tetapi sekaligus menguji dan mengembangkan local instructional theory yang telah dikembangkan serta memahami bagaimana teori itu bekerja selama eksperimen berlangsung. Design eksperimen dilakukan dalam bentuk kegiatan siklikal, misalnya dalam beberapa kali pembelajaran.  Dalam setiap siklus pelajaran, penelitian tim melakukan eksperimen pemikiran antisipatif dengan membayangkan bagaimana yang diusulkan kegiatan instruksional dapat diwujudkan secara interaktif oleh guru dan siswa, dan apa yang siswa dapat pelajari ketika mereka berpartisipasi di dalamnya. Proses siklus kumulatif dapat digambarkan sebagai berikut. Dalam eksperimen desain, pemikiran dan instruksi pada siklus mini eksperimen berdampak pada pengembangan LIT. LIT akan memandu pemikiran dan percobaan instruksi, dan di sisi lain, siklus mikro desain dan analisis membentuk teori pengajaran lokal.

c. Melakukan retrospektif analisis
Tujuan tahap ini adalah menganalisis data-data yang telah diperoleh untuk mengatahui apakah mendukung atau sesuai tidak dengan konjektur yang telah dirancang. Data yang dianalisis meliputi rekaman video proses pembelajaran dan hasil interview terhadap siswa dan guru, lembar hasil pekerjaan siswa, catatan lapangan serta rekaman video dan audio yang memuat proses penelitian dari awal. Tahapan ini bergantung kepada tujuan teoritis yang hendak dicapai, sehingga analisis yang dilakukan untuk mengetahui dukungan data terhadap local instructional theory. Pada tahap ini dilakukan rekonstruksi dan revisi pada local instructional theory serta menyajikan suatu isu kemungkinan yang dapat berimplikasi pada teori dan penerapannya pada konteks dan situasi yang lebih luas. Selain berkonstribusi dalam mengembangkan pembelajaran di level local instructional theory (instructional sequence), design research juga berkostribusi dalam mengembangkan di level aktivitas pembelajaran (microtheories) dan pengembangan di level domain-specific instruction theory.



Explanation about Design Research

l Desain Penelitian (Design Research)
Desain penelitian bisanya digunakan untuk mewujudkan lebih dari satu fungsi penelitian. Desain penelitian dan fungsi penelitian yang mungkin dilakukan adalah :
Survey     : untuk menggambarkan, membandingkan dengan evaluasi.
Studi kasus    : untuk menggambarkan, membandingkan untuk menjelaskan
Percobaan    : untuk menjelaskan, membandingkan
Penelitian Tindakan : untuk mendesain/mengembangkan solusi untuk   masalah praktis
Etnografi     : untuk menggambarkan, menjelaskan
Penelitian korelasional : untuk menggambarkan, membandingkan
Evaluasi research : untuk mengetahui keaktifan suatu program

Design Research merupakan penelitian untuk merancang dan mengembangkan sebuah intervensi (seperti strategi pengajaran dan bahan ajar, produk dan sistem pengajaran) sebagai solusi untuk permasalahan yang kompleks serta untuk memajukan pengetahuan kita tentang pengetahuan intervensi ini dan proses untuk merancang dan mengembangkannya atau mengembangkan intervensi pendidikan (misalnya proses belajar lingkungan dan sejenisnya) dengan tujuan untuk mengembangkan teori. 

Definition of Educational Design Research
Menurut Plomp (2007 : 13), design research adalah suatu kajian sistematis tentang merancang, mengembangkan dan mengevaluasi intervensi pendidikan (seperti program, strategi dan bahan pembelajaran, prosuk dan sistem) sebagai solusi untuk memecahkan masalah yang kompleks dalam praktik pendidikan, yang juga bertujuan untuk memajukan pengetahuan kita tentang karakteristik dari intervensi-intervensi tersebut serta proses perancangan dan pengembangannya. Tujuan dari Education design research dibedakan menjadi dua, yaitu Development study (studi pengembangan) dan (Validation study) studi validasi. Validation study memuat learning trajectory untuk mengembangkan, mengelaborasi dan menvalidasi troi tentang proses pembelajaran serta implikasi dari hasil terhadap rancaangan lingkungan belajar. Validation study memberikan kontribusi pada beberapa level pengembangan teori, yaitu:
n Microtheories : level aktivitas pembelajaran
n Local instructional theory : level urutan pembelajaran, serta
n Domain specific instruction theory : level konten pengetahuan pedagogis.
Dapat disimpulkan bahwa validation study adalah pengembangan dan pelaksanaan learning trajectory khusus untuk menguji teori desain.

Development study merupakan penelitian yang mengembangkan prinsip (design principle) utnuk kepentingan praktis lapangan menjadi tujuan utama dari development study. Development study didasarkan pada masalah di lapangan dan dalam pelaksanaannya melibatkan peserta didik, peneliti, ahli dan stakeholder lainnya. Studi ini mengintegrasikan teori yang telah dikembangkan dalam prinsip desain dengan temuan yang dihasilkan dari piloting di lapangan. Prinsip desain yang dikembangkan meliputi:
a. Procedural design principles, berupa krakteristik pendektan desain
b. Substantive design principles, berupa karakteristik desain itu sendiri.

Adapun tahapan dalam development study adalah sebagai berikut:
n Preliminary research : analisis konteks dan masalah untuk pengembangan landasan kerangka konseptual melalui literatur studi
n Prototyping stage : merancang petunjuk desain, mengoptimalkan prototype melalui rancangan, evaluasi fromatif dan revisi
n Summative evaluation: evalusi terhadap efektifitas pelaksanaan dan penggunaan prototype
n Systematic reflection and documentation: menuliskan keseluruhan studi untuk mendukung analisis.

Perbedaan karakteristik Validation study dan Development study
Aspek
Design Research
Efektivitas Penelitian
Validation study
Development study
Tujuan desain
Untuk merinci dan menvalidasi teori
Untuk memecahkan masalah pendidikan
-
Fokus kualitas dari desain
Kualitas teori dari desain
Kepraktisan dari intervensi
Efektivitas intervensi
Klaim pengetahuan/ hasil ilmiah
Teori pembelajaran domain yang spesifik
Aplikasi luas dari prinsip-prinsip desain
Bukti dari dampak intervensi
Penekanan metodologi
Proses desain dengan pengujian dalam skala kecil pada setting penelitian
Penerapan model intervensi pada berbagai konteks dan kelas
Skala besar, percobaan pada setting berbeda yang diperbandingkan
Kontribusi praktis
Trajectory pembelajaran yang spesifik di kelas yang spesifik
Penerapan model intervensi pada berbagai konteks dan kelas
Perubahan berbasiskan bukti pada skala besar

An Introduction of Educational Design Research

1. Educational Design Research: An Introduction

Desain penelitian pendidikan merupakan desain penelitian yang sesuai untuk mengembangkan solusi yang berbasis penelitian terhadap masalah yang kompleks dalam praktik pendidikan atau untuk mengembangkan dan memvalidasi teori tentang proses pembelajaran. Desain penelitian mencakup studi sistematis untuk merancang, mengembangkan dan mengevaluasi intervensi pendidikan seperti program, proses belajar, lingkungan belajar, belajar-mengajar bahan, produk dan sistem. 
Akker (1999) menyatakan bahwa pendekatan penelitian 'tradisional' seperti eksperimen, survei, analisis korelasional, dengan penekanan pada deskripsi hampir tidak memberikan memberi dampak untuk masalah desain dan pengembangan di pendidikan. Akker juga mengklaim bahwa alasan penting dilakukannya penelitian desain berawal dari adanya sifat kompleks dari reformasi pendidikan di seluruh dunia.

Fungsi Penelitian dan Desain Penelitian

l Fungsi Penelitian
Fungsi utama penelitian ilmiah adalah pencarian 'pemahaman' atau untuk 'mengetahui' dengan tujuan berkontribusi pada tubuh pengetahuan atau teori dalam domain penelitian. Secara umum, fungsi penelitian dapat diidentifikasi dan dibedakan satu sama lain, dengan masing-masing mencerminkan jenis pertanyaan penelitian tertentu. Contoh fungsi-fungsi penelitian:
a. To describe (mendeskripsikan)
b. To compare (membandingkan)
c. To evaluate (mengevaluasi)
d. to explain or to predict (menjelaskan atau memprediksi)
e. To design and development (mendesain dan mengembangkan)

Akan tetapi, fungsi penelitian tidak dapat berdiri sendiri, sebuah penelitian akan memiliki fungsi utama dan fungsi yang lainnya juga akan diperlukan dan diterapkan untuk membantu fungsi penelitian utama. Misalnya seperti membandingkan prestasi matematika kelas 8 Cina dengan negara lain, maka para peneliti akan mengevaluasi pencapaian siswa kelas 8 dimasing-maisng negara yang terlibat. Contoh lainnya jika seseorang ingin mengembangkan strategi belajar-mengajar untuk mengembangkan kompetisi permodelan matematis (dikelas 11 & 12) maka peneliti akan memahami dan menjelaskan hambatan yang akan dialami siswa dengan permodelan matematika dan akan mengevaluasi apakah strategi belajarnya efektif. Kedua contoh tersebut membuktikan bahwa sebuah proyek penelitian memiliki fungsi utama, namun fungsi yang lainnya perlu diterapkan untuk membantu fungsi penelitian utama.

Pemanfaatan ICT dalam Pendidikan dan Pembelajaran





 Information and Communications Technology (ICT) memiliki dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya (Maulana: 2015).
ICT sangat dekat dengan penggunaan komputer. Ada beberapa alasan kenapa di dunia pendidikan diperlukan ICT (Setiawan: 2010):
a. Kemampuan komputer untuk menyajikan informasi dalam bentuk multimedia (teks, gambar, audio, video, animasi, simulasi) dan aspek interaktif. 
b. Komputer dapat diprogram untuk melakukan perhitungan, memeriksa hasil tes dan memberikan umpan balik. o
c. Teknologi internet memungkinkan bahan ajar dapat diakses kapan saja, dimana saja dan oleh siapa saja yang terhubung ke internet.

Dalam dunia Pendidikan, ICT sangatlah berperan penting terlebih dalam perkembangan era revolusi generasi 4.0 ini, terlebih dalam proses pembelajaran. Dalam Framework pembelajaran di abad 21, peserta didik dituntut untuk memiliki keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan dibidang teknologi, media dan informasi, keterampilan pembelajaran dan inovasi serta keterampilan hidup dan karir. Hal inilah yang menjadi dasar pemanfaatan ICT penting dalam proses pembelajaran.
Dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran, Teknologi (ICT) berperan pada tiga fungsi :
a. Menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan dan mengasyikan (efek emosi);
b. Membekali kecakapan siswa untuk Pendekatan pembelajaran ’dari’ teknologi (butir-butir kesimpulan penting);
c. Learning tools dengan program-program aplikasi dan utilitas, yang, selain mempermudah dan mempercepat pekerjaan, juga memperbanyak variasi dan teknik-teknik analisis dan interpretasi

Beberapa penelitian juga membuktikan bahwa pemanfaatan teknologi (ICT) dalam proses pembelajaran dapat membantu siswa untuk memvisualisasikan atau mendemonstrasikan konsep-konsep matematis. Salah satu contoh yaitu penelitian yang dilakukan oleh Ibnu Fazar, 2015, “ Pemanfaatan aplikasi Geogebra dalam kegiatan Pembelajaan Matematika di Sekolah Menengah Atas.

Adapun bentuk-bentuk pemanfaatan ICT dalam bidang pendidikan dan pembelajaran (Setiawan: 2010).
a. Browsing & searching (Yahoo, Google, dll) 
b. E-mailing dan mailing list (Yahoo group, Google group, dll) 
c. Messanger (Yahoo messenger)  
d. Video conferencing 
e. e-library, e-book, e-journal, e-dictionary 
f. E-laboratory (PheT, dll) 
g. Blogging (wordpress, multiply, dll) 
h. Multimedia Interaktif o E-Learning (Moodle, Atutor, dll) 


  

Daftar Pustaka

Fazar, I. (2015). Pemanfaatan Aplikasi Geogebra dalam kegiatan Pembelajaran Matematika di Sekolah Menengah Atas. Proseding Seminar Nasional Pendidikan Matematika (SNAPTIKA)
(http://eprints.unsri.ac.id/5829/1/Pembelajaran_berbasis_ICT.pdf akses: Rabu, 21 Agustus 201)

Maulana, R, (2015). Apa itu ICT? Apa Manfaat dan Peranan ICT dalam Pendidikan.
(https://rezamhs.wordpress.com/2013/12/10/apa-itu-ict-apa-manfaat-dan-peranan -ict-dalam-dunia-pendidikan/, akses: Rabu, 21 Agustus 2019, 11.45)

Setiawan, E. A, (2010). Pemanfaatan ICT dalam Pendidikan.
(http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._TEKNIK_MESIN/1969021119 93031-AGUS_SETIAWAN/ICT_for_education.pdf, akses: Rabu, 21 Agustus 2019)

Suryadi, A. (2007). Pemanfaatan ICT dalam Pembelajaran. Jurnal Pendidikan Volume 8 No, 1. Universitas Krisnadipayana.
(http://simpen.lppm.ut.ac.id/ptjj/PTJJ%20Vol%208.2%20september%202007/01- acesuryadi.pdf, Rabu, 21 Agustus 2019)