Thursday, 17 February 2022


MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF

PENGIMBASAN DAN PENERAPAN BUDAYA POSITIF

Instansi          : SMP Singapore Indonesian School Palembang
Nama CGP    : Dwi Oktariani, S.Pd. 

    Budaya positif sangat penting untuk dikembangkan pada pembelajaran di sekolah. Budaya positif akan membentuk karakter-karakter siswa, karakter-karakter inilah yang akan membentuk kepribadian siswa hingga nanti tumbuh dewasa. Budaya positif perlu digelorakan atau diimpelmentasikan juga agar menjadi filter bagi siswa dalam menghadapi zaman modern yang serba digital. Penerapan budaya positif dapat dilakukan melalui keteladanan dan pembiasaan sehari-hari. Oleh karenanya, adil peran guru sangat menentukan penerapan dari budaya positif ini. 

    Salah satu kegiatan yang dapat menumbuhkan budaya positif di sekolah yaitu dengan mensosialisasikannya atau pengimbasan kepada rekan sejawat serta memberi contoh penerapan nya ddi dalam kelas yang berupa pelaksanaan keyakinan kelas atau kesepakatan kelas. Pengimbasan dilakukan untuk mengajak rekan guru kembali mengelorakan penerapan budaya positif dengan dimulai dari hal kecil yaitu penerapan keyakinan kelas. Keyakinan kelas ini dibuat dan disepakati oleh semua warga kelas. Sehingga hal ini akan menumbuhkan hal-hal positif di kelas.

    Adapun tujuan aksi nyata saya yaitu untuk menggelorakan atau mengajar rekan guru terlibat langsung dengan pembentukan budaya positif di kelas agar terbentuk budaya positif sekolah. Selain itu juga, untuk memberi contoh dan membentuk budaya disiplin positif pada pembelajaran yang saya lakukan di kelas.

Contoh Pelaksanaan Segitiga Restitusi di Sekolah

Pelaksanaan Sosialisasi di sekolah kami, kami lakukan secara daring dikarenakan pada saat waktu pelaksanaan, terjadi kasus covid-19 di sekolah kami. Hal ini tidak menyurutkan semangat kami, tetapi kami justru menambah partisipan sosialisasi kami. Sosialisasi kami lakukan dengan tidak hanya melibatkan guru pada unit kerja kami sebagai CGP, tetapi juga mengundang guru-guru berbeda unit level dan juga mengundang guru-guru sekolah lain dalam satu naungan yayasan. Sehingga pengimbasan ini lebih banyak pesertanya. 


 Berikut adalah cuplikan atau rekaman saat pelaksanaan sosialisasi. 

Tuesday, 24 September 2019

School Experience Program ( SEP )

Experience atau Pengalaman merupakan salah satu yang penting saat terjun ke dunia kerja. Apalagi kalo jelar sarjananya S.Pd. Nah, disini saya akan berbagi sedikit cerita selama saya belajar di USBI ( Universitas Siswa Bangsa International). Mungkin belum banyak yang mengenal universitas ini kerena universitas ini universitas yang baru saja lahir dan belum ada lulusan. Oke kembali ke Labtop.
Salah satu kelebihan USBI dan yang menjadi pembeda dari universitas lain adalah satu-satunya Universitas yang sangat mengutamakan pengalaman. Terutama di jurusan pendidikan. Di universitas ini, terjun ke sekolah-sekolah telah kita lakukan sejak semester pertama.
Pada semester 1 dan 2 kita telah terjun secara langsung ke sekolah-sekolah. Untuk dua semester ini kita baru melakukan observasi / pengamatan tentang sistem belajar mengajar di sekolah formal. Tentunya ini sangat membantu mahasiswa mengenal dunia pendidikan secara langsung.
Semakin bertambah level semakin menantang, begitulah yang terjadi. Nah.. ketika senester 3 dan 4 kita tidak hanya observasi di sekolah tetapi telah melakukan sistem belajar mengajar di kelas. Sebelum mengajar, tentunya kita harus tahu kondisi siswa kita baru bisa bikin RPP yang sesuai dengan kondisi kelas. Setelah observasi mulai deh, design lesson plan/ RRP dengan persetujuan dari guru pembimbing di sekolah. Tidaklah mudah men-design yang sesuai dengan guru pembimbing sehingga diperlukan komunikasi yang baik kepada beliau. Setelah tiu baru deh kita mengimplementasikan RPP kita di kelas.

Gugup, nervous dan senang bercampur aduk ketika pengalaman pertama mengajar dan berdiri di depan kelas. Tapi inilah tantangan nyata kita. Ternyata tidak mudah untuk berdiri di depan kelas.


Kaitan Lesson Study, PMRI dan Design Research


Design Research, PMRI dan Lesson Study memiliki keterkaitan satu dan lainnya, yaitu diantaranya adalah:
a. Konteks yang digunakan pada aktivitas design research dan lesson study berhubungan erat dengan penerapan PMRI.
b. Tahapan pada design research yang hampir sama dengan tahapan-tahapan yang dilakukan pada lesson study.
c. Design research dapat mengandung penerapan PMRI dan Lesson study

Adapun persamaan dalam Design Research, PMRI dan Lesson study,



Keterkaitan antara design research, PMRI & Lesson study dapat digambarkan sebagai berikut:









Probability: Pembahasan Soal IGCSE

Hello everyone, for this session I will share IGCSE question about Probability. 
Please check this out!



Fase dalam Design Research

Fase Summative evaluation
Pada akhir studi desain penelitian, fase evaluasi sumatif ditujukan untuk menentukan efektivitas aktual dari intervensi lengkap (yang dihasilkan dari fase pengembangan atau prototyping). Fokusnya adalah sejauh mana implementasi intervensi mengarah ke hasil yang diinginkan. Hasil yang diinginkan ini terkait dengan hasil yang diharapkan dari penelitian ini. sebelum memasuki tahap evaluasi sumatif, peneliti harus mampu memberikan bukti yang meyakinkan untuk kualitas intervensi sejauh ini, atas dasar kegiatan evaluasi formatif yang dilakukan selama fase pengembangan atau pembuatan prototipe.

Fase development dan prototyping
Selama fase pengembangan atau pembuatan prototipe, beberapa prototipe sedang dibuat dikembangkan, dievaluasi dan direvisi, yang membuat fase ini selalu berulang. ebuah prototipe dapat terus disempurnakan (berdasarkan pada hasil evaluasi formatif dan refleksi dari pengembang pada prototipe) dan berkembang menuju hasil akhir. Evaluasi formatif adalah fitur penting dari fase pengembangan atau prototyping. Hasil evaluasi formatif memberi landasan pada hasil penelitian desain: meningkatkan prototipe intervensi menuju sebuah intervensi berkualitas tinggi dan selesai; dan mempertajam desain tentatif yang mendasarinya menuju ke prinsip desain akhir. Evaluasi formatif dalam konteks penelitian desain pendidikan sebagai kegiatan yang dilakukan secara sistematis (termasuk desain penelitian, pengumpulan data, analisis data, pelaporan) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas prototipe intervensi dan prinsip-prinsip desain yang menyertainya.
















DAFTAR PUSTAKA

Van den Akker, J. dkk., (2013). “Educational Design Research Part A: An Introduction . New York : SLO.

Kapan kita menggunakan Design Research?

Desain penelitian direkomendasikan ketika menghadapi masalah proses belajar mengajar dan ketika solusi untuk masalah tersebut dapat mengarah pada kemajuan yang signifikan dalam pembelajaran atau setidaknya pengurangan yang signifikan dalam kegagalan fungsi sistem pendidikan. Desain penelitian lebih lanjut disarankan jika pelatihan atau intervensi sebelumnya secara konsisten terbukti tidak berhasil. Desain penelitian sering diindikasikan untuk tujuan pendidikan kritis, bahkan ketika tidak ada definisi keberhasilan yang jelas, atau merancang indikator keberhasilan yang memadai bagian dari masalah keseluruhan. Penelitian desain direkomendasikan ketika satu atau lebih kondisi berikut:
ü Ketika konten pengetahuan yang akan dipelajari adalah baru atau telah ditemukan sebelumnya oleh ahli. 
ü Ketika cara mengajar konten tidak jelas: pengetahuan konten pedagogis buruk.
ü Ketika bahan ajar buruk atau tidak tersedia.
ü Ketika pengetahuan dan keterampilan guru tidak memuaskan.
ü Ketika para peneliti pendidikan mengetahui isi dan pengajaran strategi atau bahan pengajaran buruk.

Design Research: Hypothetical Learning Trajectory (HLT)


Dalam design research, proses pelaksanaan penelitian dipandu oleh suatu instrumen yang disebut “Hypotetical Learning Trajectory (HLT) sebagai perluasan dari percobaan pikiran (tough experiment) yang dikembangkan oleh Freudenthal. HLT berdasarkan dari tiga komponen yaitu, tujuan pembelajaran, aktivitas pembelajaran dan prediksi hipotesis proses pembelajaran tentang bagaimana siswa berfikir dan mengerti konteks aktivitas pembelajaran.
Pada tahap Preparation and design, HLT dirancang untuk membimbing proses perancangan bahan pembelajaran yang akan dikembangkan dan diadaptasi. HLT dirancang selama tahap preparation and design. Selama percobaan pembelajaran, HLT berfungsi sebagai pembimbing (guideline) untuk guru dan peneliti apa yang akan difokuskan dalam proses pembelajaran, wawancara dan observasi. Sedangkan pada tahap Restrospective analysis, HLT berperan sebagai petunjuk dalam menentukan fokus analisis bagi peneliti.